Tadi pagi menyempatkan diri membeli surat kabar untuk bahan tulisan di website ini. Sudah sebulan ini tidak melakukan posting. Headline berita di koran-koran hari ini adalah mengenai GEMPA BUMI berkekuatan 7,6 Skala Richter di Sumatera Barat (Sumbar) pada hari Rabu (30 September 2009) yang lalu.
Dan sehari setelah gempa Sumatera Barat, Jambi diguncang gempa 7,0 Skala Richter. Gempa Jambi bukanlah susulan dari gempa yang terjadi di Sumbar. Saya jadi teringat pada awal bulan September lalu (2/9) sempat merasakan adanya gempa yang berpusat di Tasikmalaya (Jawa Barat) , berkekuatan 7,3 SR menggoyang kediaman saya di Bekasi.
Bekasi dan Tasikmalaya jaraknya yang cukup jauh ( ratusan kilometer), guncangannya saya rasakan lumayan kuat sehingga membuat anak saya pucat ketakutan karena melihat air di aquarium rumah bergerak-gerak cukup tinggi dan gorden jendela juga bergeser ke kiri dan kanan dengan jelas dilihatnya sangat aneh; tidak seperti yang biasa dia lihat sehari-harinya.
Gempa 7,6 SR yang mengguncang Sumatera Barat membuat banyak bangunan ambruk, mengakibatkan longsor dibeberapa tempat sehingga akan sangat banyak memakan korban tewas.
“Perkiraan kami ribuan orang kemungkinan meninggal,” kata Rustam Pakaya, Kepala Pusat Pengendalian Krisis Departemen Kesehatan Depkes. (BBCIndonesia.com).
Semoga saja korban gempa baik yang di Jawa Barat maupun yang terbaru di Sumatera Barat dan Jambi tetap optimis menatap hari esok yang lebih cerah. Atas nama pribadi sungguh saya turut berduka atas korban tewas maupun luka-luka yang diakibatkan oleh bencana alam tersebut.
Dan bagi Anda yang memiliki kelebihan rezeki, mari kita ringankan beban saudara kita di Sumatera Barat dan Jambi yang sedang terkena musibah. Banyak saluran yang dapat diakses untuk dapat memudahkan kita didalam menyumbang, seperti yang dapat kita lihat pada media televisi maupun surat kabar.
Tidak lama lagi bulan Ramadhan akan tiba. Bulan Ramadhan adalah bulan dimana kaum muslim diwajibkan untuk berpuasa.
Puasa adalah salah satu bentuk ibadah dalam agama Islam yang berarti menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan ibadah tersebut pada siang hari mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Puasa mengandung banyak manfaat dan hikmah yang diantaranya adalah dapat menanamkan dalam diri manusia rasa taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta`ala dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintahNya, baik dalam keadaan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, dan meninggalkan segala yang dilarangNya.
Puasa menjadi sarana pendidikan moral yang tinggi yang dapat menimbulkan perangai-perangai yang luhur. Puasa merupakan alat yang ampuh untuk memerangi hawa nafsu. Puasa mengajarkan kejujuran, kesabaran dan kedisiplinan, memperkuat tekad untuk melaksanakan setiap pekerjaan serta membantu menjernihkan pikiran.
Bulan Ramadhan adalah bulan dimana didalamnya diturunkan Al-Qur`an kitab suci kaum muslim, Kitab yang tidak ada tolok bandingannya, yang mempunyai daya hidup untuk sepanjang masa.
Didalam bulan Ramadhan terdapat malam Lailatul Qadar yaitu malam yang lebih utama daripada seribu bulan. Oleh karena itu seharusnyalah kita kaum muslim bergembira menyambut datangnya bulan Ramadhan, karena begitu banyaknya hikmah serta manfaat yang bisa kita dapatkan pada bulan itu.
Semoga Ramadhan tahun ini kita diberikan kekuatan untuk dapat menunaikan puasa dengan penuh hikmat dan berdiri beribadah shalat malam (tarawih), tadarus Al-Qur`an sehingga ini dapat meningkatkan keimanan serta ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta`ala. Marhaban yaa Ramadhan. Selamat datang wahai bulan yang penuh hikmah.
Bismillahirrahmanirrahim.
Tadi sempat beli tabloid PC Plus karena melihat ada bonus CD bertuliskan WordPress. Sebelum melihat lihat isi CD, saya terlebih dahulu membaca isi tabloidnya. Setelah membolak balik halaman, iseng saya baca tutorial dengan judul “Curhat Offline di Dunia Maya”.
Setelah pikir-pikir sebentar, maka mulailah saya mendownload `writer installer` yang berukuran 5 MB itu di Softpedia.com.
Pada saat proses instal aplikasi tersebut ke komputer ternyata berhenti ditengah jalan dengan pesan untuk terlebih dahulu menginstal “.NET Framework”. Maka saya berkunjung lagi ke Softpedia.com untuk mendownload .NET Framework tersebut. Ukuran filenya cukup besar yaitu 23 MB. Ya, namanya sudah niat dan lagipula “tanggung” ingin lihat atau pakai aplikasi posting dengan tanpa terkoneksi ke internet, maka saya tunggu deh prosesnya kurang lebih 25 menit.
Setelah itu mulailah install, dan… lagi-lagi berhenti ditengah jalan. Rupanya blog saya belum disetting `enable` untuk setting writingnya pada baris XML-RPC services!. Masuk ke wp-admin, isi username dan password kemudian klik Setting>Writing. Beri tanda check pada baris yang ada tulisannya XML-RPC>save changes.
Kembali ke desktop dan klik Start>All Programs>Windows Live . Pada blok dialog wizard pengesetan blog yang tampil klik [Next>].
Sebuah bar proses akan muncul mengindikasikan proses koneksi antara aplikasi dengan blog saya. Aplikasi ini juga akan membuatkan sejumlah template blog. Klik [Finish]. Jendela aplikasi utama akan tampil. Buat konten blog secara langsung. Ketikkan judul pada kotak bertuliskan “ENTER A POST TITLE”. Judul diatas – Test posting OFFLINE dengan Live Writer – itulah yang saya ketikkan hingga yang Anda baca sampai baris terakhir ini.
Nabi Ibrahim sebagai Bapak para Nabi telah diuji oleh Allah SubhanahuWaTa`ala untuk menyembelih Ismail – anaknya – sebagai kurban. Allah SWT memerintahkan hal itu melalui mimpi, untuk menguji seberapa besar keimanan dan kecintaan Nabi Ibrahim kepada-Nya.
Betapa berat perintah Allah itu untuk beliau jalankan. Akan tetapi, karena keimanannya yang tinggi dan kecintaannya kepada Allah, Nabi Ibrahim `Alaihissalam tetap berniat untuk melaksanakan perintah tersebut.
Selanjutnya Nabi Ibrahim AS mengajak Ismail ke tempat yang sepi. Ibrahim merebahkan anaknya dan memiringkannya. Beliau mengikatnya pada tulang pundaknya. Kemudian Nabi Ibrahim memegang pisau, lalu mengarahkan pandangannya sekali lagi kepada anaknya dengan pandangan yang tajam. Kemudian air matanya mengalir deras diikuti dengan desahan napas panjang yang menandakan rasa kasih sayangnya kepada Ismail. Akhirnya Ibrahim meletakkan pisau itu di tenggorokan Ismail dan menggeseknya diatas leher Ismail. Akan tetapi leher tersebut tidak putus, karena takdir Allah SWT telah menumpulkan ketajaman pisau tersebut.
Allah menebus Ismail dengan hewan sembelihan yang besar. Allah memperlihatkan sembelihan itu disampingnya, maka Ibrahim pun menerimanya. Lalu Nabi Ibrahim segera membaringkan dan menyembelih hewan tersebut. Darah mengucur deras dari leher hewan itu, dan tanah telah diwarnai dengan darahnya yang merah. Hewan sembelihan itu merupakan tebusan untuk anaknya dan sebagai pengganti bagi pengaliran darahnya.
Demikianlah kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Ismail. Selanjutnya Allah mensyariatkan kaum muslimin untuk memperingati dan mengikuti acara penyembelihan kurban ini dalam Hari Raya `Idul Adha. Yaitu pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Hal ini dimaksudkan untuk meneladani peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim, dan sebagai rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya.
(Majalah Nikah, volume 8 No. 01).
Kurban dalam hal ini dimaksudkan adalah hewan ternak (berupa sapi, kambing, atau unta) yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyrik, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Hukum daripada berkurban adalah sunnah muakkadah selama yang bersangkutan tidak mewajibkan kurban atas dirinya. Sunnah muakkadah maksudnya adalah sunnah yang sangat ditekankan. Artinya bahwa syariat berkurban itu hukumnya sunnah ain untuk setiap individu muslim dan sunnah kifayah untuk setiap keluarga muslim. Orang yang sebenarnya mampu tetapi dengan sengaja meninggalkan kurban dikenakan hukum makruh. Para ulama mempunyai batasan yang berbeda tentang “mampu” disini.
Dalam kehidupan bermasyarakat, kikir atau pelit merupakan penyakit terbesar yang sering timbul. Seseorang yang kikir dan enggan membelanjakan hartanya dijalan Allah berarti kikir terhadap dirinya sendiri. Sebaliknya jika dia ikhlas menginfakkan hartanya dijalan Allah, dia telah mengangkat derajat dirinya sediri ketempat yang terpuji.
Dengan demikian, syariat berkurban merupakan wahana pendidikan umat dan bukan sekedar ibadah ritual yang mencerminkan rutinitas.